Sabtu, 13 Juni 2009
Ketika keadaan bisnis dan keuangan perusahaan memburuk, adalah sangat wajar bila pengusaha melakukan PHK untuk menyelamatkan dan memulihkan keadaan bisnis perusahaanya. Hal ini adalah sah-sah saja dalam sebuah sistem perekonomian yang mengutamakan pertumbuhan bisnis untuk meraih keuntungan maksimal. Persoalannya, bila di sebuah negara terlalu sering terjadi PHK dengan jumlah yang besar, maka negara tersebut akan memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi. Saat angka pengangguran cukup tinggi, emosi negatif dan pikiran negatif akan mengisi jiwa dan pikiran si penganggur, dan hal ini secara tidak langsung akan menurunkan rasa percaya diri dan daya tahan sebuah bangsa untuk hidup adil, makmur, aman dan damai.
Pengangguran yang bila tak ditangani secara kemanusiaan, maka akan menghasilkan masyarakat yang putus asa untuk mampu bangkit menjawab berbagai tantangan yang ada.
Salah satu langkah yang wajib diambil sebuah bangsa, saat tingkat pengangguran tinggi, adalah memperbanyak lapangan kerja dengan cara menginspirasi dan memberi kemudahan buat orang-orang untuk menjadi entreprenuer baru. Dan, pemerintah juga wajib melindungi eksistensi para entrepreneur baru ini dari ancaman pasar bebas dan perusahaan raksasa dalam negeri. Jadi, perlu dilakukan proteksi atau pengamanan terhadap benih-benih entreprenuer baru ini, agar tidak digilas oleh para raksasa yang mahir dengan berbagai teknik bisnis yang tidak adil.
Setiap kejadian PHK haruslah diintervensi oleh pemerintah, dan setelahnya, mencari berbagai cara untuk membantu korban PHK tersebut, agar para korban PHK ini bisa segera menjadi pribadi-pribadi yang produktif buat kemakmuran dan kebesaran bangsa tersebut. Membiarkan masyarakat menjadi pengangguran, adalah sebuah krisis kemanusiaan yang akan melemahkan daya tahan bangsa tersebut untuk membangun kebesaran.
Bangsa yang besar tidak akan tersenyum pada ukuran pertumbuhan ekonominya yang besar, tapi akan lebih fokus kepada berbagai upaya pemerataan pendapatan secara kreatif dan strategis, untuk membuat masyarakatnya seratus persen produktif dan menghasilkan nilai tambah ekonomi buat menghapus pengangguran dari buminya. Banyak negara yang sangat bangga dengan pertumbuhan ekonominya yang cukup tinggi, tapi sebagian besar penduduknya tidak mempunyai penghasilan yang cukup buat membiayai kehidupan minimum. Jadi, ukuran pertumbuhan tidaklah penting untuk urusan kemanusiaan dan kesejahteraan orang banyak.
Sistem distribusi keuangan yang adil dan yang tidak memiskinkan orang lain, haruslah menjadi konsep buat membangun masyarakat yang adil dan makmur. Transaksi keuangan yang memangsa satu pihak tanpa melihat sisi kemanusian, hanyalah tabungan kemiskinan buat bangsa itu di masa depan. Sebab, ketika sistem keuangan membiarkan satu pihak yang kuat memangsa pihak yang lemah, maka sistem itu akan menciptakan orang-orang miskin baru. Dan, hal ini tidak sesuai dengan konsep membangun masyarakat yang adil dan makmur. Orang-orang miskin baru ini hanya akan menjadi beban buat bangsanya, beban yang muncul oleh ketidakadilan sistem keuangan dan perbankan yang ada.
Pemerintahan yang hebat selalu anti pada pengangguran, dan akan menggunakan energi kekuasaannya untuk membantu setiap korban PHK dan para pencari kerja, dengan berbagai kemudahan atas akses keuangan murah, untuk bisa mengarahkan mereka menjadi entrepreneur baru yang kuat dan andal buat menghapus pengangguran dari buminya
Label: Artikel ekonomi
Jumat, 05 Juni 2009
Harga minyak mentah jatuh dari posisi tertinggi tujuh bulan pada Rabu (3/6) waktu setempat, setelah cadangan minyak mentah Amerika secara mengejutkan melonjak yang mengindikasikan permintaan lebih lemah dari yang diperkirakan dan dolar AS berbalik naik (rebound), kata para pedagang.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, merosot US$2,43 dari penutupan Selasa menjadi US$66,12 per barel. Kontrak telah melonjak menjadi US$69,05 pada Selasa.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, jatuh US$2,29 menjadi US$65,88.
Harga minyak merosot akibat dolar AS berbalik naik setelah jatuh ke posisi terendah baru dan cadangan minyak di Amerika Serikat, konsumen energi terbesar dunia, melonjak.
Departemen Energi AS (DoE) Rabu mengumumkan, cadangan minyak mentah Amerika meningkat 2,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 29 Mei hingga mencapai 366 juta barel. Sebagian besar analis telah memperkirakan sebuah penurunan sebanyak 1,7 juta barel.
"Terus memburuknya permintaan, berlanjut membuat gambaran 'bearish' (lesu besar, menggarisbawahi bahwa kenaikan harga baru-baru ini tidak didukung oleh fundamental pasar," kata Antoine Halff, wakil kepala riset Newedge.
Naiknya stok berkaitan dengan meningkatnya kembali impor.
"Impor yang rendah dalam beberapa pekan --seperti kami katakan beberapa pekan lalu -- bukan akibat kurangnya minyak mentah tapi lebih daripada akibat kilang penyulingan minyak tidak membeli karena stok mereka banyak," kata Hussein Allidina dari Morgan Stanley Research.
"Prospek untuk harga minyak mungkin hanya peralihan signifikan dari kondisi terburuk," kata Nic Brown dari Natixis, menganalisa level cadangan baru AS.
Brown mengatakan, bahwa level cadangan minyak AS dan China strategis untuk dicermati.
Pekan ini, harga minyak telah mencapai puncak tertinggi tujuh bulan didukung oleh melemahnya mata uang AS, yang membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih murah untuk para pemegang mata uang kuat dan menstimulus permintaan serta mendorong harga naik.
Sementara itu, pasar juga dipengaruhi oleh laporan bahwa beberapa negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak menaati kesepakatan pengurangan produksi.
"Kami memperoleh beberapa laporan tentang produksi OPEC yang bergerak naik untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir," kata analis MF Global, John Kilduff pada Selasa.
OPEC, yang memproduksi 40% dari minyak mentah dunia, memangkas target produksinya tiga kali pada akhir tahun lalu untuk menstabilkan harga, yang jatuh dari rekor tertinggi di atas US$147 pada Juli menjadi US$32,40 pada Desember.
Grup yang pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan produksinya tak berubah di tengah sinyal pemulihan ekonomi dan naiknya harga minyak mentah, berupaya mempengaruhi harga dengan merancang kuota produksi, dengan para anggota diberikan target individu.
Kabinet Saudi pada Senin mengatakan, bahwa pihaknya memandang US$75-80 per barel sebagai sebuah harga yang wajar untuk minyak mentah. Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, adalah pimpinan de facto dari grup produsen minyak OPECLabel: Artikel ekonomi